Kamis, 14 Juli 2011

INDONESIA: Where in Government Concern for TAPOL/NAPOL in Papua?

INDONESIA: Where is Government Concern for TAPOL/NAPOL in Papua?
(A be Tree Ketapan Transit Bobaigo Timika-Papua)

by: Fr. Santon Tekege

All life realities in land Papua visible in this time effect by Indonesia country importance and capitalists in scratch batural resources Papua. Desire pornographic this importance always happens set back between both. Finally, many victims and catching arbitrarily and get stigma assault and separatist from apparatus side moment people Papua bawl to ask the right. Indonesia government and government Provinsi Papua be blind and there is no concern towards society situation Papua, more especially political detainee: TAPOL (policies arrest) and NAPOL (policies prisoner) which during the time shouting people destiny Papua. They let the people is victim impressing not has father and mother. At where does Indonesia government concern and government Provinsi Papua for political detainee: TAPOL/NAPOL in Papua?

Spirit transformatif can may be human can free self from all repression form kind not merely Indonesia government property or government Provinsi Papua self, certain official, kalapas and churches (religion group) but property every person who hanker after Justices, Peace and Creation Wholeness under the sun this.

There of opinion that is political detainee: TAPOL/NAPOL people who submits in destiny, they not again has spirit to struggle, doesn't realize right and the duty as arrest. They are let, scorned to abuse, spit even blowed up to there that fall ill month’s even years’s without supervision and attention from side when.

Struggle political detainee TAPOL/NAPOL doesn't struggle just for self or by ownself value but struggle whom they do to demand Justice and also want to end repression to achieve a exemption situation bading that undergone and feeled by worlds many people especially in Papua.

All always end in beating at their side is because they don't have strong opposition strategy, leader charismatis, organization that struggle tool with doesn't dominate technology progress. But not such the things of with alive implementing of whom they experience during reside in in arrest.
Their condition is very saddens because in institution society that them get many pressures, they are not given movement space, freedom, democracy, support to action’s even when fall ill, political detainee: TAPOL/NAPOL always let to like a child impressing doesn't has parents.
          KALAPAS and also government Provinsi Papua aware from not aware 'strange that let occupant LAPAS suffer and misery such as those which being undergone by father Fileph Karma, Ferdinand pakage and Yusak pakage and kith other existing institution society (LAPAS) in all Indonesis from society Papua.

If really such, how far involvement with Indonesia government participation and government Provinsi Papua to unburden physical pressure and way of thinking that undergone by political detainee: TAPOL/NAPOL this?
Author doesn't aim so that government more pay attention what be concern and importance with enableness for institution occupant society also aparatur government that have a duty in it. Not such the things of with goods supplying that wanted by that government institution. Also doesn't intend so that fund Special Autonomy: Otonomi Khusus (Otsus) this given to arrests and arrest operators exist in Papua. But that need in this time self existence as political detainee:TAPOL/NAPOL it self very hankerred after and necessary to lifted to public so that they feel self is treated as human. They also the importance of are treated as which existence. Remember that at world all law and that rule, never guarantee welfare and freedom for itself human existence.

Legal consequences and rule exist in that Indonesia, many Indonesia peoples that experience injustice, repression and many peoples Papua given stigma as separatist TPN/OPM or assault such as those which undergone by political detainee:TAPOL/NAPOL to melanggeng violence that done security apparatus during Papua to integration with Indonesia. Indonesia member always experience suffering.
Wauuuu.., Indonesia government at where does conscience and your feeling towards your people, especially political detainee: TAPOL/NAPOL that present to turned iron bars in Papua? At where is law and rule that can resque human, in this case political detainee: TAPOL/NAPOL in all Papua?
Final author thinks that political detainee:TAPOL/NAPOL that caught by security apparatus and given stigma TPN/OPM with hitted assault paragraph by lawyer even prisoned end the alive by Indonesia government and Papua only a process pornographic that done for the benefit of economy and policies returns between elite policies at both parties as a mean to watch over wholeness and law at country not human this.
With a purpose to that, many people Papua that so to suffer and even be victim above the land self in Papua.

In a condition like this, majority student university activist begins the heart gestures to voice “wene" with the meaning news or voice from east inclination, light for all person especially for weak class and poor. Weak class every person who have been humiliated that ignored levels and the dignity as human, every person who not can to send out light truth lights, justice and peace even affection because various shackle and restriction by by that law and rule not bring welfare for human in Indonesia especially at Papua.

Just because struggle by weak class and poor this, many activists Papua snare in law snare and disgusting rule and less human. Also undergone by political detainee:TAPOL/NAPOL in Papua same thing. They are caught by weak class and poor.

They are struggle by value with that is truth, Justice and Peace even itself affection. They battle for humanity existence in Papua. But that struggle, always face to face with desire pornographic importance between class elite local policies Papua with Jakarta only wants to scratch wealth Papua without by custom society Papua alive at on it. Finally many societies Papua experience suffering, repression and violence, injustice, marginalisasi and murder that still still going on.

Democracy space restriction and freedom to expretion with gift stigma TPN/OPM or hitted assault paragraph. On that account, the importance of look for exit and solution both for society Papua. Besides, necessary adan concern from all sides to all political detainee: TAPOL/NAPOL in all land Papua so that they can get to return the existence as human at the land self of Papua.

Writter is Activist Papua from Dioses Timika-Papua- Indonesia.


TNI mempersalahkan OPM karena mau hendak menjadikan proyek bagi TNi Indinesia. Awalnya TNI melakukan penyisiran ditempat TPN/OPM di Tingginambut Puncak Jaya jadi sebaranya yang salah TNI DAN POLRI INDONESIA DI PUNCAK JAYA-PAPUA.

Kamis, 14 Juli 2011 18:56

Aksi Sipil Bersenjata Nodai Kegiatan TNI-Rakyat di Mulia

Pangdam Akui Tiga Anggota Kembali Tertembak 12 Juli

Salah satu anggota TNI korban penembakan sipil bersenjata di Puncak Jaya yang kini dirawat di Rumah Sakit Marthen Indey Jayapura. (foto : pendam)JAYAPURA-Setelah sempat terkesan sulit memberikan informasi soal insiden penembakan yang dilakukan kelompok sipil bersenjata di Mulai, Puncak Jaya,  akhirnya pihak Kodam XVII/Cenderawasih mau terbuka juga. 
Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Erfi Triassunu sebagaimana dalam press release Kodam XVII/ Cenderawasih yang diterima Bintang Papua semalam, menyebutkan adanya insiden penembakan yang menyebabkan jatuhnya korban anggota TNI di wilayah Tinggi Nambut, Puncak Jaya, telah mengusik patroli prajurit TNI yang sedang melaksanakan pengamanan terhadap kegiatan Bhakti Sosial TNI yang ditujukan untuk membantu mengatasi kesulitan rakyat, sudah berjalan dua bulan.
Kegiatan pengamanan ini merupakan prosedur tetap (Protap) yang wajib dilakukan oleh prajurit pada setiap kegiatan, baik di Markas maupun di lapangan. Insiden penembakan terjadi tanggal 5 Juli 2011 dan telah mengakibatkan 2 personil TNI terluka pada bagian lengan dan kaki yang dilakukan oleh kelompok sipil bersenjata. Sedangkan pada tanggal 12 Juli 2011 kembali terjadi dan telah jatuh korban 3 personil TNI terluka di bagian kaki, lengan dan dagu. Tentang korban di pihak warga sipil, mungkin saja terjadi, dan ini tergantung kebiasaan mereka.

Rabu, 13 Juli 2011


Empat Korban Penembakan di Mulia Dievakuasi ke Jayapura
Rabu, 13 Juli 2011 16:28

Empat Korban Penembakan di Mulia Dievakuasi ke Jayapura

JAYAPURA—Empat   anggota TNI dari Yonif 753/AVT Nabire dan yonif 751/BS Sentani,  masing-masing Letda (Inf) JS, Praka NA, Pratu HRS  dan Pratu S yang tertembak di Kampung Kalome, Distrik Tingginambut, Kabupatan Puncak Jaya, Selasa (12/7) pukul 07.00 WIT berhasil dievakuasi dari Mulia menuju ke Lapangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kota Jayapura menggunakan helicopter MI 17 pada Rabu (13/7) pukul 10.40 WIT.
Pantauan di lapangan, proses evakuasi ke-4 korban dilakukan tertutup tanpa memberikan izin kepada wartawan yang telah menunggu beberapa jam lalu seakan akan proses evakuasi ini tak diperkenankan dilaporkan media massa. Namun wartawan yang ‘dikelabui’ tersebut  berupaya untuk menyaksikan proses evakuasi ke-4 korban dari kejauhan.  Ketika turun  dari Helycopter ke-4 korban seketika dinaikkan di atas dua buah  kendaraan jenis Kijang warna merah dan biru tua dengan  No Pol DS 960 FM. Sedangkan Kijang merah tak diketahui No Pol.   Alhasil, 2 kendaraan tersebut dengan kecepatan tinggi melewati jalan belakang Kodam XVII/Cenderawasih langsung membawa ke-4  korban menuju RS  Aryoko untuk penanganan lebih jauh. Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Ali Bogra yag dikonfirmasi via ponsel untuk memastikan identitas dan kondisi ke-4 korban,  tapi  tak ada tanggapan. Akhirnya para wartawan berupaya mengkonfirmasi peristiwa penembakan terhadap ke-4 anggota TNI langsung kepada  Yonif 753/AVT Nabire sekaligus merahasiakan identitasnya terungkap ke-4 korban TNI     masing masing   Letda (Inf) JS terkena peluru di bagian kaki kanan, Praka NA dalam keadaan kritis setelah tertembak di lutut kiri dan kaki bagian kanan, Pratu HRS tertembak di telapak tangan kiri  dan Pratu S terkena serpihan peluru di bagian kaki kiri.
Terpisah, Sekjen TPN/OPM Wilayah Pegunungan Antonius Tabuni yang dihubungi via ponsel  dari Kampung Kalome terkait peristiwa penembakan terhadap ke-4 anggota TNI menandaskan pihaknya mengharapkan agar pihak TNI segera menghentikan penyisiran terhadap pemukiman warga  khususnya di wilayah Kampung  Kalome. Hal ini selain melanggar HAM juga membuat warga setempat trauma serta tak  bisa turun melakukan aktivitas sehari harinya.
Dia menambahkan, ketika kegiatan penyisiran dilakukan TNI ternyata warga sipil seorang wanita bersama anaknya yang datang dari wilayah Philia menuju Kalome ikut tertembak. Kini kedua korban dievakuasi dari Kalome ke Philia yang jaraknya sangat jauh serta tak ada seorangpun anggota  TNI yang bisa membantunya.
Terkait peristiwa yang dialami kedua warga sipil tersebut, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua Kombes Pol Wachyono yang dihubungi menandaskan, pihaknya belum mendapat laporan resmi dari  Polres Puncak Jaya. Walaupun  pihaknya berulangkali menghubungi Polres Puncak Jaya. (mdc/don/l03)


Ketika Kisah Cinta Menembus Batasan Jarak
Santon Tekege, seminaris angkatan pertama KPA Nabire sekarang Frater Diosesan yang menjalani TOP, Tahun Orientasi Pastoral di Bomomani suatu ketika bertanya pada saya: “Bagaimana Pater bisa membuat banyak hal di Bomomani, bagaimana Pater bisa mencari orang-orang membantu pembangunan di Bomomani?” Suatu pertanyaan yang menarik, dan mungkin dilatari pikiran bahwa dana dari Jakarta mengalir deras ke suatu kampung terpencil di pedalaman Papua ini. Jawaban saya singkat saja waktu itu: “Pertama, saya percaya hanya orang biasa yang mengira ada sesuatu yang tidak mungkin; kedua, saya belajar dan bertanya pada orang yang lebih dulu berkarya di tempat ini; ketiga, saya membangun persahabatan dan pengharapan dengan orang-orang yang punya hati pada Papua.”
Jalan Salib di depan gereja baru Bomomani
Dari Pertanyaan Seorang Frater
Saya menulis kisah ini dari pertanyaan seorang frater, lima belas tingkat di bawah saya, yang sebentar lagi 9 tahun menjadi imam. Namun kehadiran Fr. Santon di Bomomani dan angkatannya di beberapa wilayah misi pedalaman Keuskupan Timika untuk menjalani TOP, saya kira bukan suatu hal yang biasa-biasa saja walau kelihatannya demikian. TOPer tahun ini adalah buah kegigihan seorang Yesuit bernama Yusuf Suharyoso, yang nekat mendirikan KPA di Nabire di sela-sela kesibukan dan (saya tahu) kebingungannya menyelesaikan gereja paroki Kristus Sahabat Kita, Bukit Meriam – Nabire. Dan dia tidak mungkin sendirian banting tulang di situ, (saya tahu) ada Sr. Juliva SMSJ mengajar di seminari KPA perdana itu; (saya rasakan) kami terbakar semangat yang sama ketika Romo Yusuf mengundang untuk terlibat membagi ilmu dengan mereka.
Mengenang tahun-tahun awal tugas di Keuskupan Timika dan saya menemukan orang-orang yang sadar bahwa dirinya bukan orang biasa, orang-orang yang tidak mau tahu bahwa ada sesuatu yang tidak mungkin, orang-orang yang mati-matian menghayati dirinya adalah seorang misionaris. Jangan salahkan saya berpikir demikian, karena orang pertama yang menjumpai saya adalah Basilius Soedibya SJ; yang menjemput saya dan mengajak saya berputar-putar dengan Land Rover tuanya di kota seremeh Nabire. Tidak ada yang menarik di Nabire, tidak ada mall, tidak ada bioskop 21, tidak ada satu mobil sedanpun, tidak ada restoran enak dan terlebih lucu lagi tidak ada barang murah di Nabire. Ketertarikan itu muncul ketika di sudut kecil kaki Bukit Meriam, Romo Bas akhirnya menunjukkan suatu hal yang istimewa, pusat misi Yesuit. Istimewa karena tidak seperti yang saya bayangkan tentang misi para Yesuit ini.
Sejak masuk SMP Kolese Kanisius, saya mulai dididik Yesuit di daerah super elit di jalan Menteng Raya, sebuah sekolah yang tiap tahun diimpikan seribu lebih remaja Jakarta namun hanya puluhan orang saja diizinkan duduk di bangku belajar jati, yang bukan main antiknya. Waktu itu saya masih rasakan lantai marmer di aula tua yang sekarang auditorium bertingkat dua. Sementara tentang Romo Bas, dalam tugas terakhirnya di Jakarta saya kenal sebagai seorang Rektor Seminari Menengah Wacana Bhakti dan Kolese Gonzaga sekaligus, juga sekolah hebat bahkan untuk ukuran Jakarta sekalipun. Setahu saya, dulu Romo Bas hanya bergaul dengan orang-orang besar yang kekayaannya tidak habis tujuh turunan, orang-orang yang aroma harumnya saja sudah bikin iri bunga-bunga mawar di tamaBengkel kayu Yesuit di Nabiren depan Rektorat yang megah. Dan di Nabire, sebuah sekolah kumuh SMU Adhi Luhur sudah disebut sebagai kolese, sebuah rumah yang retak sana sini sudah menjadi pusat misi tarekat sebesar Serikat Yesus. Romo Bas gemar membanggakan bengkel kayu dan kandang babinya. Semua itu tidak membuat saya kagum sedikitpun sampai kemudian saya tahu bahwa tidak ada satupun bengkel furniture di Papua punya alat selengkap karya misi Yesuit ini; dan bahwa semua alat itu harus dibawa dengan sebuah Landing Ship Tank, sebuah alat perang, seperti alegori sebuah perjuangan yang harus segera saya hadapi juga setelah menatap paroki kosong di Bomomani.
Kompleks misi Bomomani, tepat di tengah pegunungan tengah Papua persis di antara distrik Kammu dan distrik Mapia, rupanya kumpulan bangunan kayu sederhana terserak di antara lahan kerikil dan tanah merah tempat rumput tinggi tumbuh subur di kebun dan sela-sela pekarangannya. Gereja kayunya berdiri sederhana dan belum terkesan tua dibanding usianya, sementara aula yang baru dibangun sudah menunjukkan tanda-tanda akan roboh, dinding di sebelah utara aula sudah miring keluar sekitar dua puluh derajat dan kuda-kuda atap sudah melengkung. Dua pondok bertingkat berdinding papan cincang juga sudah tak terawat, tampak seperti rumah hantu menambah suasana horor di lokasi yang dikeramatkan oleh penduduk setempat ini. Pastorannya kelihatan hendak dibuat baik tapi kurang persiapan. Kayu-kayunya masih basah sehingga semua bingkai melengkung membuat jendela dan pintu tidak bisa menutup rapat. Ketika melangkah di pastoran ini, jelas bahwa lantainya sangat rapuh, setiap membaringkan diri untuk tidur ada kekhawatiran lantai akan patah dan itu juga sudah terjadi. Saya tertawa, ternyata ada hunian pastor, yang jauh lebih parah dari pusat misi Yesuit di Nabire.
Seorang pastor, Vincent Suparman SCJ, adalah yang pertama menantang saya! Dengan lihai dia mulanya perlihatkan gereja Tiga Raja lama yang kuno dan mati gaya itu, baru kemudian menunjukkan kapela St. Fransiskus di susteran Charitas RSMM. “Ini baru gereja! Siapa dulu yang bangun… Freeport!” ujar Pater Vincent seolah-olah tidak ada orang lain yang bisa bikin barang bagus di Papua. Ini yang membuat saya sinis dalam hati, karena saya hitung-hitung, bangunan itu terlalu murah untuk perusahaan seperti Freeport. Diam-diam saya sudah rencanakan, “Nanti kamu lihat gereja baru di Bomomani…” bukankah ada banyak batu dan kayu yang bagus di Bomomani? Maka keyakinan itu semakin besar, saya seorang misionaris. Seorang misionaris akan temukan cara agar kabar gembira itu bisa sampai dan jiwa-jiwa dimenangkan bagi Allah. Freeport itu kecil dibandingkan back up yang mendukung saya, Tuhan Allah.
Akhirnya saya tidak lagi menuntut subsidi rutin dari Jakarta saat masa prapaskah pertama saya di pegunungan Mapiha, Papua (Maret 2005). Pakaian saya mulai kumal karena terbiasa mendorong-dorong drum bensin dan solar, yang laku keras di pedalaman. Saya seorang imam diosesan KAJ, dan kini misionaris di tanah Papua, menolak dimanjakan kemapanan karena Allah sudah manjakan saya dengan segala kecerdasan dan gagasan di kepala tolol ini untuk memperdaya modernitas bagi kepentingan umat. Saya melihat kegigihan Rm. Bas dan Rm.Yusuf yang tidak menyerah dengan keterbatasan situasi setempat, mereka bisa dan para Yesuit bertahun-tahun sudah mengajarkan pada saya semangat magis semper, selalu lebih, selalu mengatasi kemapanan…
“Ini Persis Seperti Yang Dahulu Kami Buat…”
Demikian ujar Br. Jan, OFM, yang datang meramaikan paskah 2009 di Bomomani. Saya sangat terkesan dengan bruder ini, pertama-tama karena dia pribadi yang sangat menyenangkan. Terlebih lagi, mempelajarinya sama seperti fosil hidup dari suatu nostalgia perintisan awal penyebaran Injil di wilayah pedalaman. Dari pribadinya saya menggali banyak hal terkait perjuangan misi membuka daerah terpencil ini. “Saya pukul anak-anak keras-keras karena saya sayang pada mereka,” katanya serius saat menjelaskan pola pendidikan asrama di Moanemani dahulu kala. Bruder Yan meyakinkan saya bahwa umat saya, orang Papua, bukan pemalas; mereka hanya terpisah ribuan tahun dengan peradaban. Misi Fransiskan, menafsirkan cerita Bruder Yan, adalah memberi kesempatan bagi umat untuk mengejar tahun-tahun yang hilang itu khususnya dengan pendidikan pertanian dan peternakan, dengan pengetahuan membaca agar umat bisa menemukan dunia yang lebih luas dari sekedar gunung gemunung di sekitar mereka. Lebih jauh lagi saya meneliti, para misionaris awal ini sudah memahami pokok permasalahan umat pribumi: pasar!
Br. Jan
Br. Jan, OFM mengamati heran turbin air mikrohidro di kali Ihoai, sekitar tiga ratus meter ke sebelah barat kompleks misi, sungai itu sekaligus menjadi batas terjauh kompleks misi jika lokasi sekolah dasar YPPK, yayasan pendidikan milik Keuskupan Timika diperhitungkan sebagai wilayah misi juga. Pembangkit listrik tenaga air ini bukan kerja satu orang, ada akumulasi kerja keras dari sejumlah orang di Jakarta dan di Bomomani. Dari Jakarta, Budi Susanto, seorang bapak umat saya di Bojong adalah lulusan PIKA yang kemudian memproduksi mesin pengolahan kayu, Bp. Budi menyumbangkan bagian esensial yakni turbin. FX.Purwanto, paman saya menyumbangkan polly besar untuk percepatan putaran turbin, Om Pur tidak bosan sumbang ketika kiriman polly yang pertama ternyata tidak cocok untuk turbin dan mengirimkannya yang baru lagi, padahal harganya sama sekali tidak murah. Kemudian kabel-kabel, panjangnya mencapai 3 Km dalam berbagai ukuran, semuanya diusahakan oleh Om Pomo, kakak mama saya. FX. Soepomo ini meninggal persis tanggal 2 Nopember 2002, hari peringatan arwah, beliau didoakan dalam misa oleh Pastor Michael, yang sekarang bertugas di Bomomani sehingga semua kini terhubung.
Selain menyaksikan sebuah keajaiban listrik di gerbang belantara Mapia ini, Br.Jan juga melihat hal yang tidak biasa: para pemuda bina tani menyuburkan lahan rusak dengan kompos, sesuatu yang belum terjadi dijamannya, dan menanaminya dengan jagung, kedelai dan sayur mayur sebagai lingkaran kehidupan otonom kompleks misi. Jagung diolah menjadi makanan babi dan ayam potong, selanjutnya ayam potong dan anak-anak babi bisa di jual untuk membeli hancuran ikan asin, bahan olahan pakan babi dan ayam lalu keuntungannya dipakai untuk memenuhi kebutuhan lain bagi kegiatan misi. Demikian juga kedelai, digabungkan dengan hasil pembelian dari petani-petani lain, diolah menjadi tahu, yang diminati umat karena kurangnya pilihan lauk bergizi. Tahu, yang bentuknya mirip lemak babi, sering disebut sebagai babi Jawa karena umumnya diproduksi dan dikonsumsi orang jawa. Kelebihan sayur mayur seperti wortel, yang tak habis diserap segelintir pembeli lokal – sebab kemudian banyak umat ikutan menanamnya – dijual ke Nabire, Sr. Juliva Motulo SMSJ mengambil peran tersebut. Maka Br. Jan kembali senang melihat jaringan kerja Bomomani yang cukup rumit ditelusuri.
Sebenarnya kekaguman Br.Jan mesti mengarah pada saudari fransiskanesnya, Sr. Juliva Motulo SMSJ. Segala gagasan dari mulut bawelnya itulah yang kemudian menggerakkan saya melakukan hal-hal melelahkan melawan kemapanan pastoran Bomomani, yang setelah lima tahun menjadi tempat paling nyaman di pedalaman Papua. Dengan listrik 24 jam, saluran air jernih yang mengalir tiada henti untuk pabrik tahu disisihkan sebagian untuk pastoran, siaran televisi berbayar dari parabola telkomvision, jaringan transport yang mondar-mandir melengkapi kebutuhan hidup, komunikasi radio dan telepon satelit semuanya bisa membuat saya tenang-tenang saja menikmati hidup di Bomomani. Tapi kehadiran Sr.Juliva ini memang mengganggu kenyamanan saya. Minimal seminggu sekali dia miss call, memaksa saya telpon balik untuk tanyakan soal wortel, daun bawang atau tomat, yang akan dikirim ke Nabire atau melapor soal penjualannya atau tentang ayam, tentang babi-babi atau kemungkinan membuat misa di Legari sekalian membeli jagung di sana atau tentang apa saja gagasan yang ada di kepalanya diocehkannya ke telinga saya, seringkali ketika sebuah film bagus di putar di HBO, Cinemax atau Star Movie. Saya harus berkata ya, dan memberikan komitmen pelaksanaan untuk hentikan bawelnya.
Memang ocehan Sr. Juliva menjadi gagasan yang banyak saya ciptakan di Bomomani, sebagaiman gagasan saya juga menjadi banyak karya yang dimulainya di Nabire. Ocehannya soal ibu-ibu suku Mee yang berjualan di pasar Nabire, membuat gagasan menggiatkan pertanian sayur di Bomomani menjadi mungkin dibuat seperti juga gagasan saya tentang pengembangan ekonomi ibu-ibu di Nabire menjadi karya membuat kue dan menjahit dalam Rumah Bina Sosial yang dimulai Sr. Juliva bersama rekan sekomunitasnya. Jaringan yang selama ini membantu saya, akhirnya juga membantu Sr. Juliva sepeRomi, Sr.Juliva, Rm. Fe, Myriam dan Mathewrti jaringan kerja yang dimilikinya dilibatkan juga membantu misi domestik mengembangkan contoh peternakan ayam potong di pedalaman untuk pertama kalinya.
Kemudian, Sr.Juliva berkenalan dengan seorang relawan FIDESCO, Cecile seorang sarjana pertanian asal Perancis yang cukup berhasil menghidupkan pembinaan pertanian dan peternakan di Lotta, Menado bersama dengan para relawan Perancis dan para pemuda-pemudi Menado. Perkenalan tersebut dibagikannya kepada saya sehingga akhirnya saya dan Cecile berbicara panjang tentang kemungkinan keterlibatan FIDESCO dalam misi domestik KAJ di Bomomani membangun sebuah Rumah Bina Tani. Maka kisah cinta itu semakin luas melampaui jarak yang terbayangkan bisa mudah dijangkau.
Satu Jiwa dalam Raga yang Berbeda
Kesaryanto, Pr menerima salib perutusannya sebagai misionaris domestik di Bomomani. Dia akan menemani Romi (panggilan akrab Rm. Michael), yang sudah sejak awal 2010 berkarya di Bomomani bersama saya. Dalam perjalanan ke puncak saat pertemuan unio tanggal 6 Juni 2011, saya bertanya “tesis lo tentang apa?” dan dia menjawab “diskursus Habermas dan Ratzinger” saya tersontak senang. Apakah ini suatu kebetulan lagi bahwa Romo Kes punya konsep sama memikirkan misi di Bomomani? Ketika saya dahulu membayangkan misi Bomomani menjadi kemilau dalam pergeseran cara pandang, suatu enlightment in paradigm shift, menjadi pioner dari perubahan budaya yang sementara ini masih dikagetkan ke arah yang acak oleh konsumerisme zaman modern lewat pemerintah yang bagi-bagi duit, para pendatang bak pedagang yang kejar keuntungan dan memperkuat ‘budayanya’ sendiri. Umat Bomomani ditarik paksa masuk peradaban maju sementara kegelapan menyelimuti mereka, kemana arah kemajuan itu? Apakah merdeka secara politik adalah kemajuan? Apakah mengumpulkan rupiah adalah kemajuan? Ataukah menjadi diri sendiri adalah kemajuan?
Romi ajari mama Wakei memasakSaya dan Romi merumuskan arah, menjadi diri sendiri sebagai petani yang katolik dan sejahtera dan mandiri sebagai hasil dari pewartaan Kabar Gembira dalam berbagai aspek dunia modern akan sekaligus membuat iman menjadi pemimpin umat mengembangkan budaya menuju tingkat peradaban yang lebih tinggi. Suatu social deconstruction dari Habermas dan suatu true eucharist dari Gustavo Guttieres sekaligus. Bahasa tinggi ini pernyataannya sederhana, Romi ajar ibu-ibu Bomomani masak dan mengolah lauk dari sayur mayur yang ada, bersama-sama orang muda sesekali dia cari jamur di hutan pada musimnya sambil membuat percobaan jamur. Secara konsisten, Romi melahap tanaman tradisional mereka: nuta (ubi manis), nomo (keladi), sayur hitam, hatu (seperti ilalang), pego(seperti tebu, diambil bakal bunganya) dan iha bemu (sejenis jamur); dia membuat banyak percobaan masakan dengan bahan tersebut dan perkenalkan aneka sayuran baru: terong, bit, brokoli dan selada air. Hobinya menanam aglonema yang mahal dialihkan menanam buncis, wortel dan kacang panjang sambil menghibur diri membudidayakan anggrek langka yang diambilnya dari puncak perbukitan di sekitar Bomomani. Walaupun pastoran belum dipugar seperti gereja baru dan asrama yang keduanya kelihatan gagah, Romi sudah merapikannya sedemikan hingga membuatnya sudah tampak lebih baik dari losmen melati di pinggiran Jakarta. Umat yang sudah bertahun-tahun hanya bisa menanam dan menjual biji segar kopi kini mulai bisa minum kopi hasil buatan mereka sendiri dengan alat sederhana yang ada di dapur mereka.
Akhirnya untuk kedua rekan misionaris, selamat mengkaryakan dunia gagasan dalam misi domestik KAJ di Bomomani. Romo Michael dan Romo Kes, tunjukan bahwa kita HAMBA, kita mengabdi dengan penuh kerendahan hati sebagai gembala yang baik. Hangat dalam perjumpaan dengan umat adalah trademark yang terus kita tampilkan, gaul istilah biasa yang akan kita dengar di Jakarta sekaligus bisa di-andal-kan untuk melakukan tugas-tugas yang jelas tidak pernah mudah, misioner karena siap diutus kemana saja dengan semangat lepas bebas dari apapun yang memikat dan mengikat hati kita, tentu saja bahagia sebagai imam adalah hal penting bagi kekekalan panggilan sampai mati dan jangan lupa ikut andil dalam aneka kepentingan keuskupan tempat kita mengabdi, karya kita di Bomomani bisa meluas membawa kebaikan bagi aneka karya Keuskupan Timika, khususnya untuk paroki-paroki yang berdekatan. ‘…kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?’ (Mzm 56:5) enakidabi

Apa Sebenarnya Tugas Gereja di Papua (Sebuah Refleksi Pastoral di Papua)

(Sebuah Refleksi Pastoral)
By Santon Tekege
“SERUAN orang Papua bagi keadilan dan kebenaran jatuh pada telinga-telinga tuli”, begitulah komentar Mgr. Desmond Tutu, uskup Agung Afrika dalam sebuah seruan yang diajukannya dalam rangka menyikapi penindasan terhadap orang Papua dan mendorong perjuangan pembebasan nasional Papua kepada Sekjen PBB. Ungkapan ini menujukan bahwa sudah sekian lama orang Papua berjuang untuk bebas dari penindasan, namun segala daya upaya yang dilakukan oleh orang Papua bagaikan menabur garam di Lautan. Jeritan orang Papua kurang direspons oleh manusia di bumi. Suara orang Papua tidak diindahkan oleh pelaku distorsi sejarah Papua, yakni Indonesia, Belanda dan Amerika Serikat.

Uskup Desmond Tutu adalah salah seorang uskup di benua lain yang menyuarakan suara kenabian bagi pembebasan orang Papua. Kalaupun beliau berada di belahan dunia lain, namun beliau mempunyai telinga sehinga mendengarkan dan mempertanyakan pelaksanaan PEPERA yang direkayasa dan dimanipulasi di bawah tekanan militer Indonesia.

“Dengan keprihatinan yang mendalam, saya telah mempelajari peranan PBB dalam pengambil-alihan Papua Barat oleh Indonesia dan Penentuan Pendapat Rakyat yang kelabu. Sebagai pengganti refrendumnya yang sebenarnya, setiap orang dewasa laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan untuk memberikan suara yang rahasia tentang apakah mereka ingin menjadi bagian dari Indonesia atau tidak, di mana hanya lebih dari 1.000 orang yang dipilih dan dipaksa untuk menyatakan bagian Indonesia di depan umum dalam suasana ketakutan dan tekanan”.

Beliau mempertanyakan pelaksanaan PEPERA dan menyerukan kepada PBB untuk mengadakan peninjauan kembali terhadap pelaksanaan PEPERA. “Saya senang akan menambahkan suara saya pada seruan Internasional yang semakin meningkat kepada Sekretaris Jenderal PBB untuk memeriksa peninjauan kembali sikap PBB dalam hubungan dengan PEPERA 1969 yang cacat itu”.

Beliau juga tidak hanya sekali menyerukan kepada PBB, tetapi sebagai pemerhati masalah kemanusiaan dan juga tokoh agama mendukung perjuangan Papua melalui doa dan menyampaikan seruan moral sejauh itu dibutuhkan oleh orang Papua dalam perjuangan pembebasan. “Saya akan mengingat rakyat Papua dalam doa-doa saya, dan saya akan senang menyampaikan kerinduan dan dukungan moral saya yang besar bagi mereka pada waktu yang mereka butuhkan”.

Barangkali orang lain beranggapan bahwa seruan dan pernyataan uskup Desmond Tutu adalah berbicara politik praktis. Namun, bagi uskup Desmond Tutu adalah masuk akal dan rasional, bukan politik praktis. Menurut uskup Desmond Tutu adalah merupakan suatu keharusan bagi pemimpin agama untuk menyuarakan suara kenabian karena soal kemanusiaan Papua yang juga sebagai ciptaan Tuhan yang sedang menuju ke ambang kepunahan etnis. “Rakyat Papua telah disangkal hak-hak dasar mereka, termasuk hak menentukan sendiri… Sekitar 100.000 orang telah meninggal di Papua sejak Indonesia mengambil alih wilayah ini pada 1963”. Ketika membaca atau mendengar seruan Mgr. Desmond Tutu, barangkali pemimpin agama atau orang lain beranggapan bahwa beliau mengajukan pernyataan kepada PBB hanya karena orang Papua adalah berkulit hitam yang sama dengannya. Anggapan seperti ini memang benar bahwa uskup Desmund Tutu adalah orang berkulit hitam, akan tetapi beliau berbicara tentang kemanusiaan. Masalah kemanusiaan tidak dibatasi oleh agama, suku, ras dan golongan. Berbicara tentang martabat manusia menembus segala dimensi perbedaan.

Masalah kemanusiaan bukanlah masalah golongan atau rasisme dan sebagainya, melainkan merupakan masalah semua manusia yang berada di planet ini (bumi). Oleh karena itu, setiap manusia harus melihat masalah kemanusian sebagai masalah universal yang tidak dibatasi oleh ras, suku, agama dan golongan. Demikian pula penegakan martabat manusia Papua, berarti bukanlah berbicara rasisme, atau agamaisme, dan seterusnya, melainkan berbicara kemanusiaan Papua sebagai ciptaan Tuhan yang sama dengan manusia lain, maka mereka harus dihargai eksistensinya sebagai manusia.

Selain Uskup Desmon Tutu, ada pula uskup dan beberapa pendeta di wilayah Melanesia juga menyerukan suara kenabian. Salah seorang uskup Katolik Meuborne Australia, Mgr. Hilton Deaken memimpin sebuah Perayaan Eukumene untuk mendoakan perjuangan pembebasan orang Papua. Dalam perayaan tersebut mereka menyerukan: 1) segenap rumpun bangsa Melanesia di seluruh dunia mendukung dan membantu perjuangan pembebasan orang Papua; 2) Tinjau kembali PEPERA 1969; 3) Perlunya DIALOG antara Indonesia dan Papua itu kalau mendesak oleh orang Papua dan orang asli Papua di seluruh wilayah Papua.

“Menghimbau segenap rumpun bangsa Melanesia di seluruh dunia agar lebih giat membantu dalam perjuangan kebebasan dari penindasan dan ketidakadilan di Papua di Indonesia. Seluruh rumpun bangsa Melanesia yang tersebar di seluruh dunia perlu mendesak PBB agar mempertimbangkan kembali Penentuan Pendapat Rakyat atau PEPERA tahun 1969, yang dijadikan landasan resmi untuk menyatukan Irian ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Tetapi juga pelanggaran HAM, menindas budaya dan identitas sebagai orang asli Papua, masalah perampasan sumber daya alam, masalah kesehatan dan pendidikan yang terpuruk di tanah Papua bahkan illegal logging.

Para tokoh Gereja ini menyadari bahwa perjuangan orang Papua bukanlah kekecewaan atas kesejahteraan ekonomi semata, melainkan segala permasalahan kemanusiaan yang buat oleh penguasa Indonesia. Untuk itu, hal pertama yang harus dilaksanakan adalah tinjau kembali PEPERA. Karena menurut mereka PEPERA dilakukan di bawah tekanan militer dan tidak demokratis. Oleh sebab itu, meninjau kembali pelaksanaan PEPERA merupakan hal penting yang harus diperhatikan dan ditinjau kembali. Mengapa? Hanya karena penafsiran terhadap distorsi sejarah yang keliru mengakibatkan dengan orang Papua dibantai satu persatu.

Seruan yang sama juga datang dari seorang mantan uskup Sorong-Monokwari, Mgr. Vandiepen yang berada di Belanda. Dalam sebuah perayaan khusus bagi perjuangan pembebasan orang Papua, beliau menyerukan dua hal, yakni 1) perjuangan orang Papua adalah perjuangan ketidak-puasan mereka terhadap pelaksanaan PEPERA yang dinilai penuh rekayasa dan pemanipulasian serta tidak demokratis, maka diserukan kepada setiap orang yang beretikat baik perlu mendukung perjuangan orang Papua; 2) menyerukan kepada semua umat Allah bahwa segera merapatkan barisan dan mendukung perjuangan orang Papua karena merekalah juga manusia sama seperti kita di bumi ini.

Seruan Mgr. Vandiepen di atas dilatar-belakangi oleh pengalamannya ketika beliau bersama dengan umatnya di Papua. Beliau telah melihat dan mendengar serta merasakan sendiri betapa pahit dan sadisnya penindasan yang dilakukan terhadap umatnya di Papua. Ia merasa bahwa sewaktu masa usia tuanya, ia harus berbuat sesuatu bagi umatnya yakni menyerukan dan menyatakan sesuatu yang benar kepada masyarakat Internasional agar menyelesaikan masalah Papua dengan menyentuh akar persoalan yang sudah lama terkubur. Barangkali pengalaman pahit bersama dengan umatnya mendorongnya untuk menyerukan kepada dunia sebagai ujud keterlibatannya dalam pembebasan nasional bangsa Papua.

Seruan Mgr. Vandiepen salah satu mantan uskup yang pernah bertugas di Papua menyentuh akar persoalan (distorsi sejarah) yang melahirkan dua masalah baru, yakni masalah HAM dan segala masalah kemanusiaan di Papua. Mgr. Vandiepen merasa bahwa distorsi sejarahlah yang mengakibatkan hak hidup orang Papua terancam. Oleh sebab itu, ia dengan berani menyerukan dan menyatakan kepada dunia bahwa perjuangan orang Papua adalah berhubungan dengan distorsi sejarah (PEPERA) yang dilakukan di bawah tekanan militer Indonesia. Beliaulah mantan uskup pertama yang pernah mengalami dan melihat penindasan terhadap umatnya di Papua, maka ia tidak tanggung-tanggung dan menyatakan kepada masyarakat Internasional bahwa dasar perjuangan orang Papua adalah ketidakpuasan terhadap pelaksanaan PEPERA.

Seruan point kedua menujukan bahwa pentingnya keterlibatan semua orang sebagai ungkapan solidaritas terhadap orang di Papua yang telah dan sedang mengalami penindasan dan pemusnahan, baik terselubung maupun juga terangan-terangan. Beliau menyadari bahwa dukungan kita semua di bumi, sangatlah dibutuhkan untuk mendorong perjuangan orang Papua. Beliau menyerukan kepada semua umat manusia, tanpa memandang ras, suku, agama dan golongan yang beretikat baik segeralah mengambil sikap untuk mendukung perjuangan pembebasan orang Papua, karena perjuangan orang Papua memiliki dasar yang jelas, yakni distorsi sejarah yang mengakibatkan lahirlah dua masalah baru, yakni pelanggaran HAM dan juga segala masalah dalam berbagai aspek sosial. Hanya karena distorsi sejarah membawa malapetaka bagi eksisntesi orang Papua. Jika pemerintah Indonesia beretikat baik dengan orang Papua, maka hal pertama yang harus dibicarakan adalah meninjau dan meluruskan sejarah politik orang Papua.

Selain beberapa uskup dan pendeta di atas, masalah Papua dibicarakan dalam Dewan Gereja-Gereja Amerika Serikat. Kini giliran Dewan Gereja Amerika Serikat untuk menyuarakan suara kenabian mereka atas perjuangan orang Papua menuju pembebasan. Barangkali pemimpin Gereja-gereja di Amerika Serikat merasa bahwa mereka perlu memberikan dukungan moril terhadap perjuangan pembebasan orang Papua. Oleh sebab itu, masalah Papua menjadi salah satu masalah yang harus diperbicangkan dalam dewan gereja Amerika Serikat demi mencari solusi yang terbaik bagi penanganan dan penyelesaian masalah Papua. Lalu bagaimana dengan uskup-uskup dan pendeta-pendeta yang ada di benua Asia. Kita tidak pergi jauh-jauh, tetapi kita mengintropeksi diri di Indonesia.

Bagaimana tanggapan pendeta dan uskup-uskup di Indonesia terhadap jeritan dan harapan umatnya yang sedang dalam penindasan dan penderitaan? Nampaknya para pemimpin Gereja tidak serius dalam penanganan dan penyelesaian masalah Papua. Pihak Gereja menyembunyikan akar masalah, yakni distorsi sejarah dan menyembunyikan penderitaan serta penindasan umatnya bahkan masalah kemnusiaan pun disembunyikan.

Memang benarlah apa yang dikatakan oleh uskup Desmond Tutu: “Seruan orang Papua bagi keadilan dan kebenaran jatuh pada telinga-telinga”. Mengapa? Pemimpin-pemimpin agama, khususnya pimimpin Gereja di Indonesia, lebih khusus lagi pemimpin Gereja di Papua - sekalipun tidak semua - bungkam seribu bahasa. Barangkali Gereja di Papua berpikir bahwa manusia yang berada dalam kemelut penidasan, bukanlah umatnya, atau belum saatnya Gereja berbicara karena aktor-aktor penindasan terhadap orang Papua adalah orang Indonesia di mana para petugas Gereja sendiri adalah mayoritas orang Indonesia, maka penindasan terhadap umatnya dibiarkan. Atau berpikir bahwa ketika manusia tertindas, semakin minoritas baruluh bangkit dan terpanggil untuk menyuarakan suara kenabian; atau dunia Intrenasional menyikapi situasi di Papua, barulah Gereja di Papua bangkit menyatakan yang benar demi menghilangkan imit tentang keapatisan Gereja dan menyatakan kepada orang lain bahwa Gereja di Papua juga sedang menyuarakan suara kenabian. Atau juga barangkali pemimpin Gereja menyadari bahwa penindasan yang terjadi di Papua tidak begitu sadis dan hebat dibanding penindasan yang dialami oleh massa rakyat di Amerika Latin. Jika pandangan-pandangan inilah yang tertancap kuat dalam sanubari petugas Gereja–sekali-pun tidak semua, maka boleh dikatakan pemimpin Gereja membiarkan penindasan terhadap umatnya.

Penulis menyadari akan keberadaan Gereja. Gereja amat berhati-hati untuk terlibat dalam politik praktis. Untuk para hierarkis Gereja katolik dilarang keras terlibat dalam politik praktis. Hal ini telah ditegaskan dalam Hukum Kanonik sehingga Gereja diikat dengan hukum tersebut. Kebebasan para hierarkis untuk menyatakan kebenaran terkadang dibatasi oleh hukum Gereja dan juga hukum positif (buatan manusia). Tugas Gereja untuk memihak kepada mereka yang tertindas, termiskin dan termarginalisasi seperti umat dan jemaatnya di Papua yang mengalami penindasan dari sejak tahun 1960-an hingga kini tahun 2011, terkadang diabaikan. Tugas Gereja untuk mewartakan kebenaran dan keadilan terkadang tidak sesuai dengan konteks.

Mengapa Gereja bungkam seribu bahasa untuk menyatakan yang benar tentang distorsi sejarah – PEPERA - yang direkayasa, dimanipulasi, tidak demokratis dan dilakukan di bawah tekanan represif militer Indonesia kepada penguasa yang menyembunyikan kesalahannya? Gereja menyembunyikan kesalahan negara, berarti secara tidak langsung Gereja menindas umatnya. Sikap apatisme Gereja dalam menyembunyikan kesalahan distorsi sejarah yakni pemanipulasian PEPERA adalah merupakan pengakuan dan juga mempertahankan status neo-kolonialisme terhadap orang Papua..

Tugas Gereja adalah menegakan kebenaran dan keadilan. Gereja bukan hanya mewartakan kebenaran yang terdapat dalam Alkitab, tetapi juga menyikapi dan menegakkan kebenaran dan keadilan dalam situasi kongkrit yang dialami oleh umatnya. Petugas Gereja tidak hanya berkata-kata, tetapi perkataannya harus diwujudkan dalam tindakan nyata/aksi sosial. Hal ini dikatakan demikian karena situasi di Papua dituntut sikap dan tindakan nyata dari para petugas Gereja di Papua untuk bangkit dan menyuarakan suara kenabian dan kebenaran serta keadilan. Gereja harus berpihak kepada umat yang tertindas, termarginalisasi dan membebaskan mereka dari tirani adat, pemerintahan dan agama. Tirani penindasan semakin meningkat di Papua, maka petugas Gereja sebagai penerus, pengemban visi dan misi Yesus harus mengangkat umatnya yang berada dalam tirani penindasan dan dosa struktural yang membelenggu umatnya. Gereja harus berpihak kepada umatnya yang tertindas dan membawa serta menyatakan keperihatinan-Nya, sama seperti Yesus membawa keprihatinan Allah. “Ia setia kawan dengan kemalangan manusia. Berpihak kepada yang lemah dan menderita, Yesus hidup berjuang untuk mereka.” Ungkapan keperpihakan Yesus ditegaskan dalam Injil Lukas, 10:34, yang berbunyi: “tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya, lalu membalut lukanya”. Yesus adalah soko guru bagi umat Kristiani. Yesus selama hidup-Nya menekankan betapa pentingnya kasih. Kasih diwujudnyatakan dalam perbuatan.

“Rencana kerja Yesus tidak berhenti pada rencana bagus, tetapi dengan setia mewujudkan di dalam seluruh sikap dan perilaku hidup Yesus. Karena itu kepada Yohanes Pemandi Yesus menyatakan kesetiaan hidup itu, dan mengajak setiap orang menemukan kebahagiaan hidup karena memilih dan berpihak pada korban.”

Ungkapan di atas ditegaskan dalam Lukas, 7: 22 : “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Berbahagialah orang yang tidak kecewa dan menolak aku”. Ayat-ayat tersebut merupakan sikap dan perbuatan Yesus, di mana Ia memihak kepada umat-Nya yang menderita. Ia tidak hanya berkata-kata, akan tetapi diwujudnyatakan dalam perbuatan nyata (aksi sosial).

Jika Gereja benar-benar melanjutkan visi dan misi Yesus, maka sudah saatnya Gereja terdorong dan tampil sebagai nabi pada jaman kini untuk memaklumkan kebenaran dan keadilan di Papua. Gereja jangan membiarkan umatnya berada dalam belenggu penindasan, tetapi mengangkat dan membebaskan umatnya yang dipercayakan Allah untuk melayani dan membebaskan mereka dari belenggu penindasan. Dalam hal ini, petugas Gereja di Papua kiranya harus belajar dari pengalaman uskup Timor Leste, uskup dan pastor-pastor di Amerika Latin. Ketika umatnya berada di bawah kemelut penindasan, mereka tampil dan menyuarakan suara kebanarn dan keadilan. Mereka bergabung dengan umatnya menentang para tirani-tirani penguasa yang menindas umatnya, bahkan sampai mereka mengangkat senjata menghadapi tirani penguasa.

Uskup Belo misalnya, beliau terdorong dan memiliki beban moril untuk memperjuangkan pembebasan umatnya untuk keluar dari cengkeraman penguasa yang tidak biadab. Demikian pula uskup-uskup di Amerika Latin mengangkat senjata hanya karena merasa terdorong untuk membebaskan umatnya yang ditindas oleh penguasa. Mereka mengangkat senjata hanya karena membela harkat dan martabat manusia yang kala itu berada dalam ancaman. Keprihatinan mereka terhadap umat tertindas itulah yang mendorong mereka untuk melawan tirani penindasan.

Bagaimana dengan petugas Gereja di Papua? Kiranya Gereja tidur lelap. Barangkali Gereja bagaikan tidak mempunyai kuping sehingga Gereja kurang mendengarkan penderitaan umatnya; barangkali Gereja bagaikan tidak mempunyai mata sehingga tidak melihat penderitaan umatnya; barangkali Gereja bagaikan tidak mempunyai perasaan sehingga Gereja kurang merasakan penderitaan umatnya; barangkali Gereja tidak mempunyai akal budi, karena Gereja kurang memikirkan dan merenungkan nasib malang yang menimpa umatnya. Singkatnya, barangkali Gereja tidak prihatin dengan apa yang dialami oleh umatnya di Papua. Semestinya, Gereja sadar akan penindasan yang dialami oleh umatnya. Sebetulnya Gereja ada di Papua untuk menjawab kebutuhan umat setempat. Gereja bukan ada hanya untuk melayani sakramen-sakramen di Gereja saja, melainkan lebih dari itu. Salah satunya adalah mendengar jeritan dan tangisan, melihat penderitaan umatnya, merasakan dan memikirkan jalan keluar demi pembebasan umatnya. Namun, entalah Gereja di Papua menciptakan budaya bisu dan apatis dengan realita umatnya. Kiranya benar apa yang dikatakan oleh J.H. Padmoharjono, SJ: “Keprihatian kepada yang lemah, yang menderita menjadi korban dosa dari sesama yang kuat, pandai dan berkuasa tidak didengar dan ditanggapi oleh manusia”. Petugas Gereja di Papua –sekalipun tidak semua-masuk dalam kategori ini, karena belum ada sikap yang nyata oleh Gereja dalam memerangi penindasan dalam terang Injil di Papua.

Orang Papua sebagai korban penindasan mengidungkan kidung ratapan dan tangisan, teriakan umatnya membung-bung dan tak henti-hentiknya menyuarakan kepedihannya, namun jeritan orang Papua jatuh di telinga-telinga tuli. Juga jatuh di mata buta seperti ikan cakalang di Pasar Youtefa Jayapura (matanya terbuka lebar tetapi tidak melihhatnya)
“Dari tanah, dari darah atau penderitaan saudara sesama manusia menjadi korban tindakan berdosa, - karena mereka lemah dan tak berdaya – mereka menjerit ke Surga kepada Tuhan minta keadilan. Hingga saat ini, manusia masih bersikap sama: tidak peduli akan keprihatinan Allah”.

Inilah ungkapan keprihatian seorang pastor yang mengikuti penderitaan umatnya di Indonesia. Di manakah Engkau “Gereja” di Papua??? Apa sebenarnya tugas Gerjeja di Papua? Untuk apa Gereja ada di Papua? Apakah Engkau “Gereja” ada di Papua hanya untuk mewartakan Injil dan hanya sibuk melayani sakramen-sakramen di gereja? Begitukah visi dan misi Yesus? Kiranya hal ini kita refleksikan bersama.

Ada juga sikap lain yang dilakukan oleh Gereja - sekalipun tidak semua - yang ujung-ujungnya memojokkan dan merugikan umatnya. Apa sikap Gereja tersebut? Gereja menjadi kaki tangan dari Pemerintah untuk memaksakan paket politik pemerintah, misalnya Otsus, MRP dan segala perusahan termasuk (MIFEE dan Kelapa Sawit) yang di dalamnya terdapat racun yang mematikan bagi umatnya di Papua. Petugas Gereja menjadi penyambung dan pemaksa kebijakan Pemerintah Pusat untuk di terapkan di Papua. Hal ini nampak melalui sikap dan perilaku Gereja –sekalipun bukan semua. Contohnya, ketika penulis menghadiri diskusi yang dihadiri para wartawan, pimpinan Gereja dan mahasiswa, salah seorang pemimpin Gereja di Papua mengatakan dengan tegas: “MRP segera dibentuk agar orang Papua merasakan Otsus”. Ungkapan ini menunjukkan bahwa Gereja memaksakan umatnya menerima Otsus dan MRP untuk tetap diterapkan di Papua, pada hal umat di Papua telah menolak Otsus. Sikap seperti ini tidak jauh beda dengan sikap Pemerintah Propinsi Papua dan Pusat untuk memaksakan sesuatu yang tidak dikehendaki umatnya untuk diterapkan di Papua. Walaupun umatnya menolak, namun pemimpin Gereja menjadi mitra kerja Pemerintah Indonesia untuk menjalankan Otsus di Papua.

Kami sebagai aktivis pro-demokrasi, pro kebenaran dan keadilan serta pro-pembebasan rakyat Papua barat dapat kami katakan bahwa Gereja menjadi salah aktor dalam menindas umat. Gereja menjadi salah satu wadah untuk melunakkan hati umatnya dengan pewartaan-pewartaan yang sebenarnya tidak kena konteks dengan situasi di Papua. Mereka mendorong dan mendukung kebijakan Pemerintah untuk tetap diterapkan di Papua, sekalipun kebijakan tersebut mendatangkan malapetaka bagi umatnya.

Selama ini Gereja kurang peka terhadap jeritan dan harapan umatnya yang ditindas oleh penguasa Indonesia. Gereja lebih mengutamakan pelayanan Ibadah atau Sakramen-sakramen dari pada mendahulukan keadilan dan perdamaian. Hal ini berarti tidak sejalan dengan amanah Yesus Kristus, sogo guru umat Kristen: “…tinggalkanlah persembahan di depan Mesbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahan itu” (Mat. 5:24). Apakah Gereja peduli dengan realitas penindasan yang dialami oleh umatnya? Apakah masih ada waktu bagi Gereja untuk menyuarakan realitas penindasan yang dialami oleh umatnya?

Gereja di Papua belum terlambat. Gereja masih ada waktu untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan serta menyatakan yang benar kepada Indonesia. Massa rakyat Papua menantikan pemimpin Gereja di Indonesia, lebih khusus petugas Gereja yang bertugas di Papua untuk tidak menyembunyikan kebenaran dan keadilan, akan tetapi menyatakan secara jujur tentang kebenaran dan keadilan yang diabaikan oleh Pemerintah dan mendorong Pemerintah untuk mendengar dan melakukan solusi terbaik yang dikehendaki oleh umatnya. Minimalnya mendesak Pemerintah untuk membuka dialog damai dengan umatnya di Papua.

Gereja harus beretikat baik bagi umatnya tertindas di Papua. Gereja sudah saatnya bangkit untuk membebaskan umatnya dari kemelut penindasan. Juga Gereja sebaiknya jangan menjadi kaki tangan Pemerintah untuk memaksakan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak umatnya, akan tetapi Gereja berusaha mencari solusi untuk membebaskan umatnya keluar dari kemelut penindasan dan ketidakadilan..
Tak dapat disangkal bahwa ada pemimpin Gereja tertentu yang melakukan tindakan perlawanan terhadap tirani-tirani penindasan. Patutlah dan doakanlah bagi mereka yang selama ini menyuarakan suara kenabian, dan memihak kepada rakyat tertindas, antara lain bisa dihiung dengan jari dan lain sebagainya. Mereka adalah gembala umat yang sudah dan sedang mengikuti, mengalami dan merasakan betapa pahitnya penindasan yang dilakukan oleh tirani-tirani penguasa terhadap umatnya. Mereka merasa bahwa menyelamatkan jiwa-jiwa adalah tugas Gereja dan mereka dipilih dan dipanggil oleh Allah untuk menyuarakan suara kenabian dan menegakkan kebenaran serta keadilan di Papua Barat. Bagi mereka memihak kepada rakyat tertindas adalah tugas yang paling mulia dan untuk itulah mereka diutus. Tindakan perlawanan beberapa pemimpin Gereja di Papua adalah merupakan tindakan penyelamatan dan pembebasan bagi umat tertindas. Tindakan dalam proses pembebasan ini demi kemuliaan sesama dan lebih-lebih demi kemuliaan nama Tuhan.

Mampukah Gereja di Papua membebaskan umatnya yang berada dalam ancaman kepunahan etnis? Mampukah Gereja melanjutkan visi dan misi Yesus Kristus serta mendaratkan visi dan misi dalam konteks penderitaan di Papua? Ataukah Gereja di Papua menciptakan visi dan misi baru sehingga mengabaikan tugas yang sebenarnya, dan menindas umatnya? Kapan Gereja di Papua akan bangkit dan membebaskan umatnya dari lumpur duka nestapa?

Daftar Pustaka :

1. Padmoharjosono, J.H. SJ. 2002. Supleman APP; Kerangka Dasar Rekonsilisasi:
Upaya Hhidup Damai, Rukun dan Bersatu. Jakarta: Komisi PSE KWI.
2. Imbiri, Leonard. 2005. Masalah Papua Dalam Pandangan Tokoh Dunia. Jayapura.
3. Tebay, Neles, Pr. Dialog Jakarta-Papua (sebuah perspektif Papua), SKP Jayapura 2009